Archive for December, 2005

Sudah Pecah

Thursday, December 29th, 2005

Katakanlah becana itu sudah pecah. Semua orang yang lihat, langsung tau. Bejana itu memang sudah pecah.

Namun lihatlah apa yang dilakukan sang pemilik. Disusunnya kembali bejana pecah itu. Dengan hati-hati, dia menata kembali pecahannya, agar dapat kembali menjadi bejana yang utuh. Namun saking besar keinginan mendapatkan bejana itu kembali, terkadang si pemilik terbawa emosi dan malah merusakkan bejana kesayangannya lagi.

Terkadang tangannya terlalu buru-buru menempelkan pecahan, terkadang dia memaksakan tempelan bejana tidak pada tempatnya sehingga bejana itu tak kunjung utuh. Terkadang karena kesal, dilemparnya bejana itu hingga hancur berantakan lagi. Terkadang hanya dipandang, dan didiamkannya bejana itu. Namun seringkali ia mencoba menyusunnya kembali, berharap bejana akan kembali utuh.

Bila bejana itu akhirnya memang tidak bisa kembali utuh, pemiliknya tentu akan menyimpan pecahannya, satu demi satu. Tentu akan ditempatkannya bejana itu di tempat istimewa. Mungkin suatu saat dia akan mencoba menyusunnya kembali. Tapi mungkin juga dia hanya akan merenung, memandangi pecahan bejana kesayangannya itu.

Satu hal yang pasti, bila suatu saat dia berhasil menyusun bejananya kembali, he will treat bejana itu dengan sangat hati-hati. Mengingat adanya retakan-retakan yang suatu saat mungkin akan membuat bejana itu hancur berantakan lagi. Tak akan digenggamnya bejana itu terlalu keras karena dia tau bejana itu masih rapuh. Tak akan dipinjamkannya bejana itu pada siapapun, khawatir si peminjam akan merusakkannya. Tak akan pula sekali-sekali lagi dia melempar bejananya itu. In short words, he will be very carefull with it. I know that for sure.

Wajah Natal

Monday, December 26th, 2005

What do you like the most from Christmas ? Yeah, of course the born of our saviour, Jesus Christ. I know that…

Another thing I like from Christmas, is the atmosphere. Dekorasi Natal yang selalu bikin hati menjadi hangat. Pohon Natal yang menjulang tinggi Boneka salju yang selalu bikin tersenyum. Bunga katusba yang menghangatkan ruangan dengan warna merahnya. Belum lagi sosok Santa Claus baik hati itu. Ah, who doesn’t like Christmas ?

Semua pusat perbelanjaan merias diri menyambut Natal. Kantor saya pun tak mau kalah, tepat di pintu masuk, terpampang dekorasi natal yang sungguh menarik. Belum lagi semua front liner yang berseragam topi Santa Claus. Hmmm…. Christmas is trully here, guys.

Masih segar di ingatan saya, waktu masih kecil dulu, saya suka sekali melihat dekorasi natal di sebuah gereja jalan pasirkaliki. Waktu itu, mereka membuat sebuah boneka salju besar yang dipasang tepat di depan gereja. Sengaja tak sengaja, hampir setiap hari saya lewat situ. Melihat si boneka salju itu selalu membuat Shasya kecil tersenyum. Semasa remaja, saya sering berkeliling gereja-gereja untuk merayakan Natal. Dan yang paling saya suka dari kegiatan itu, adalah menikmati dekor Natal yang berbeda dari tiap gereja. Pernah satu saat, pemerintah daerah melarang penebangan cemara-cemara besar untuk dijadikan pohon Natal. Tak kurang meriah, pohon palem pun ternyata dapat menggantikannya.

Tak mungkin saya lupa, beberapa tahun lalu, papa saya pernah menyumbangkan cemara di halaman belakang rumah kami untuk dijadikan pohon Natal di gereja. Yang terjadi, malah Abbe - my youngest brother - menangis terisak-isak melihat cemara itu ditebang dan dibawa pergi. Hati kami rasanya terkoyak mendengar tangisan Abbe. Tapi janji tetap janji, dan pohon cemara itu tetap disumbangkan. Waktu hari Natal tiba, kami mengajak Abbe ke gereja untuk melihat cemara nya. Abbe pun tersenyum, melihat si cemara sudah berdandan cantik dengan lampu-lampu yang mengitari tubuhnya. Legalah hati kami semua.

Natal_2005Malam natal kemarin, saya menyempatkan diri melewati beberapa gereja. Sendirian. Saya ingin kembali merasakan hati yang menghangat dengan suasana Natal. Tapi you guys know what I saw ? Di depan SEMUA gereja yang saya lewati malam itu, bukan lagi boneka salju lucu yang saya lihat. Tapi jejeran aparat keamanan, lengkap dengan senjata mereka. Lengkap dengan pasukan anti teror bom.

Satu hari sebelum Natal, hari saya di kantor Natal_200503disibukkan dengan kedatangan beberapa aparat yang (katanya) bermaksud membantu pengamanan kebaktian. Bukannya mau berpikir negatif. But hey ! Saya juga ga bodo-bodo amat lho. Dalam hati, saya tau maksud kedatangannya itu.

Ugh, beginilah wajah Natal kita sekarang, guys.

Saya boleh jago bicara cinta, but when it comes to politics, I’m no one. Saya nggak tau salah siapa ini. Dan saya juga nggak mau tau. Yang saya mau, satu saat, kita bisa merayakan Natal tanpa kecemasan apapun. Tanpa jejeran aparat bersenjata. Cukup dengan boneka salju. Atau Santa Claus dengan barisan rusanya. Setuju ?

Duniaku

Monday, December 26th, 2005

banyak kisah kutuang disini
lewat ribuan kata,
untaian syair,
ulasan senyum,
dan gelak tawa
juga….
berjuta tetesan air mata

sering kubertanya,
adakah makna semua ini

jika sempat kutersenyum,
tuluskah senyum yang terulas sejenak itu ?
bila pernah kau dengar gelak ku
sungguh dari jiwakah dia berasal ?

apakah air mata yang menetes,
mengalir menuju kolam kebahagiaan ?
(berharap satu saat akan membanjiriku kembali)

ataukah ia menciptakan danau kesedihan tak berujung ?
(dan kuterjebak di dingin airnya)

ku hanya ingin duniaku kembali
tepat di saat ku meninggalkannya……

24 Jam. Cukup ??

Thursday, December 22nd, 2005

Haduh ! 24 jam sehari udah nggak cukup buat saya ! Mengutip sebuah band yang tenggelam entah kemana, Arkarna, "So Little Time So Much To Do ". Yeah, udah kayak wanita karir beneran aja, I barely dont have any time to do my own things.

Saya bisa menghabiskan hampir seluruh hari saya di kantor. Di office hour, saya kerja seperti biasa, regular jobs lah.. After that, mulailah hari-hari saya bersama gank, menenteng handycam dan tripod, plus setumpuk storyboard (yang selalu berubah di lapangan), berkeliling pusat perbelanjaan tempat saya bekerja. Cape ? Banget ! Tapi seneng… Getting busy is just what I need badly !

Belum lagi mau Natal. Christmas is coming in 3 days, I still dont have any present for anyone ! Well, except for my favourite aunt. Pssssttt, dont tell her, I bought her a book ! Nice one, I guess, story about Christmas. Yep, let the Christmas Spirit be around us !!!

Setiap tahun menjelang Natal, selalu banyak hal yang perlu dikerjain. Yang pertama, tentu pasang pohon Natal. Tapi tahun ini, -dengan sejuta maaf-, saya ngga punya waktu ! Jadi, di rumah saya terpasang sebuah fake christmas tree terbuat dari styrofoam, itu juga pesen dari seorang tetangga yang kebetulan dekorator. Aaaah, million thanks to her for that.

Belanja Natal ? Lupakanlah… I don’t even have any Christmas Gift for my friends. Tahun-tahun lalu, saya bahkan menyempatkan membuat coklat sendiri untuk teman-teman dekat. Atau berburu barang-barang aneh yang nggak bisa ditemukan si penerima kado. Nggak usah bicara soal kartu natal. Selain udah nggak musim, waktu nulis (dan ngirim) nya juga mannnnaaa…. ? Thanks God buat teknologi SMS, dan MMS !

Dan janji ketemu teman ! Aduuuuhhh…. Maaf ya….. Banyak sekali janji yang harus di pending (sampai batas waktu dimana hanya Tuhan yang tau). Padahal pengen banget ketemu dan brainstorming. Ajakan seorang temen untuk sekedar makan mie Kocok Kartika Sari (dia ngajak karena tulisan saya sebelumnya di "Jajan Yuk") aja sudah tertunda ribuan kali. Please forgive me my friend…. Promise you we’re absolutely gonna make it someday….

Di sela kesibukan saya, saya menyadari betapa berantakannya rumah saya (to be honest, bukan ‘menyadari’, melainkan ‘disadarkan’ dengan suara oma yang nyaris mencapai oktaf setara dengan Mariah Carey). Kamar saya super berantakan ! Buku-buku bertumpuk nggak beraturan (udah ga cukup lemari bukunya…). Bolpen, buku tulis, buku renungan, MP3Player, kacamata, arloji, semua bergelimpangan dengan santai di atas ranjang. Nggak usah nanya soal cucian kotor, numpuk ! Baju-baju golongan standar, tentu sudah dicuci oleh sang mesin cuci. Nah, yang repot baju-baju kesayangan saya yang memerlukan perlakukan khusus dari sang tangan (yang sebetulnya tak pernah mencuci itu). Belum lagi anting-anting saya yang mulai berekspansi ke meja ruang tamu. Bukan apa-apa, kadang kalo udah buka anting, suka pengen naronya dimana aja. Duh, suatu hari nanti, saya janji akan merawat kembali anting-anting (dan kalung-kalung) kesayangan saya itu. Sabar ya my babies….

Sehubungan dengan teriakan dalam rangka ‘penyadaran’ itu, kemarin saya pulang lebih awal ke rumah. Saya bahkan rela melewatkan sebuah forum marketing yang harusnya saya hadiri. Niatnya sih mau meredakan amarah si oma yang kian menggebu itu. Ketika maghrib usai, saya sudah tiba di rumah. Sehabis makan malam, rencananya saya mau ‘menyelamatkan’ kamar saya dari cercaan orang serumah. Tapi apa daya ?? Kaki saya pegel setengah mati, korban jajahan seharian dari sepasang perangkat fashion bernama ‘high heels’. Akhirnya, malam itu saya merendam kaki di air (super) panas -sambil ditemani Perjalanan Mata dan Hati-nya Prima Rusdi-, kemudian mandi. Sehabis mandi, niat beres-beres semakin luntur, mungkin terbawa arus shower. Saya pun tertidur pulas (berdoa pun terlewatkan… please forgive me God…). Apa daya, saya tak berbakat jadi domestic goddess………... zzzzz…..zzzzzBobo_di_jogja2

Birthday Party

Sunday, December 18th, 2005

Seorang perempuan muda di akhir usia 20-an benar-benar sibuk. Mempersiapkan ulang tahun anak lelakinya. Dia membuat list undangan. Teman lama, teman baru, teman arisan, teman antar-jemput anak sekolah, hampir semua teman dekatnya dia undang.

1 bulan sebelum hari -H, dia sibuk preparing pesta ulang tahun anaknya itu. Untuk undangan, dia memesannya di sebuah percetakan ternama, sebelumnya, dia sudah membawa putranya untuk dipotret di sebuah studio foto terkenal. Sebuah undangan ulang tahun dengan foto si empunya hajat, isn’t it just perfect ?

Makanan. Perempuan muda ini pun sudah menyewa jasa seorang tukang masak terkenal. Setiap menu dipilihnya sendiri, dengan diskusi panjang dengan si koki. Pemilihan bahan makanan dilakukan secara seksama. Daging sapi terbaik untuk menghasilkan Beef Wellington paling enak. Daging ayam, juga dari kualitas wahid untuk Chicken Rosemary-nya. Tak lupa ikan salmon, khusus untuk tamunya yang menolak makan sapi dan ayam. Sayuran dan buah, dipilih dari golongan grade - A, sebagai bahan apetizer dan desertnya. Melengkapi jamuan makan malamnya, seorang socialista ini pun sudah memesan red wine dari kualitas terbaik, tanpa melupakan white wine (juga kualitas terbaik) untuk tamunya yang memilih salmon untuk main course.

Sebagai tuan rumah, dia tak mau rumahnya nampak biasa-biasa. Dia pun menyewa jasa seorang decorator untuk ‘menyulap’ rumah mewahnya dengan nuansa childhood, khusus untuk menyambut ulang tahun anak semata wayangnya. Sehari sebelum hari -H, sebuah tulisan membentang di ruang tamunya,
"Happy Birthday, dear Son"
Cantik sekali, seluruh penjuru rumah dihiasi balon berwarna-warni, foto sang anak bertebaran dimana-mana. Bingkisan untuk tamu pun telah berjajar rapi, siap untuk dibagikan. Isinya ? Cukup membuat anak-anak kecil bersorak kegirangan.

Tak kalah penting. What to wear ? Perempuan cantik penikmat mode ini sudah jauh-jauh hari memesan sebuah gaun anggun dari seorang perancang ternama. Kalau saya sebutkan namanya, you guys pasti berdecak kagum. Tamu yang diundang sudah di-info bahwa dress code pesta itu ; just be white. Dalam bayangannya, tamu-tamu akan berdatangan dengan nuansa putih yang pasti akan membuat pesta itu semakin wah.

Hari -H tiba, sejak pagi, si cantik telah bertengger di salon kesayangannya sejak pagi. Perawatan seluruh tubuh. Dia ingin nampak istimewa malam itu. Tepat jam 6, seperti tertera di undangan. Tamu-tamu mulai berdatangan. Dia menyambut mereka di pintu masuk. Para ibu menunggu di ruang tamu, sementara anak-anak dibawa ke ruang bermain. "Supaya pada betah main dan nggak ganggu kita ngobrol", katanya. Dia membawa teman-temannya ke ruang makan. Menikmati makan malam yang luar biasa. Kemudian dia mengajak tamu-tamunya untuk menikmati sajian wine di tepi kolam renangnya. What a night. Jamuan makan malam yang luar biasa. Well prepared. Nyaris tak bercela.

BUT HEY !!!
what about the birthday boy ??

Dimana dia saat semua orang berkumpul merayakan ulang tahunnya ? Saat semua berpesta, anak malang itu malah ‘diungsikan’ ke kamar bermain. Supaya tak mengganggu, katanya.

Merasa akrab dengan situasi diatas ??

Well, you guys
(yang merayakan) pasti sudah sibuk mempersiapkan Natal. Saya juga begitu. Semua percakapan yang terjadi di rumah selalu menyangkut Natal. Tante saya sudah kalang kabut menyiapkan kado untuk keponakan-keponakan tercintanya. Tante saya yang lain sibuk latihan paduan suara untuk hari Natal nanti. Nyokap gokil udah mengeluarkan semua koleksi resep kue keringnya. Bokap saya sudah mendandani rumah dengan suasana Natal yang khas. Oma saya sudah membenahi rumahnya supaya nampak lebih cantik di hari Natal nanti. Belum lagi memilih menu yang akan disajikan untuk cucu-cucunya nanti. Saya ? tak kalah sibuk, sejak menginjak bulan Desember, saya kontan men- download lagu-lagi Natal untuk ringtone handphone saya.

So, where’s Christ exist diantara semua kesibukan kita ? Sungguhkah kita menghadirkan ‘the birthday boy’ di pesta ulang tahunnya ? Bukankah kita merayakan Natal yang berarti merayakan kelahirannya ? Atau jangan-jangan, sikap kita serupa dengan si socialista yang justru ‘mengenyampingkan’ si anak di perta ulang taunnya sendiri ?

Christmas is coming soon, guys. Let’s put Jesus di urutan teratas dari semua tradisi Natal kita. Nggak ada yang lebih penting dari Dia di hari Natal ini. Tidak kue Natal, tidak pohon Natal, apalagi hanya sekedar baju baru untuk Natalan.

Merry Christmas, everyone…….Ho_ho_ho_

Upacara Bendera ??

Friday, December 16th, 2005

Ada policy baru yang berlaku di kantor saya. Mulai hari ini, setiap tanggal 17 setiap bulan, semua karyawan diwajibkan upacara bendera. Halah !!

Upacara bendera. Hmmm…..
What do u think about it ?

Panas ?
Cape berdiri ?
Ga bisa ngobrol ?
Whats the benefit ?

atau……

Membangkitkan nasionalisme ?
Mengenang pahlawan yang telah gugur ? (duh!)
Patriotisme ?

hmmm…. jujur ya ?
saya termasuk golongan yang pertama.

I love my country, tapi saya ga mau berpanas-panas hanya untuk menunjukkan rasa cinta saya. Waktu sekolah dulu, saya bahkan termasuk jarang ikut upacara, soalnya suka pingsan ! hehe…. malu-maluin banget kan ?

Omong-omong soal nasionalisme, saya jadi inget pengalaman saya 8 taun yang lalu. Saya berhasil lulus dari sebuah program ala militer, yang harus saya lewati demi menjadi seorang mahasiswa. Selama 1 minggu, saya berdandan ala hansip (sumpah !). Dengan baju hijau, sepatu boot (yang selalu membuat jempol kaki saya teriak-teriak kepanasan kalo kena matahari), topi hansip, sabuk hansip, dan berbagai properti yang membuat saya tampil selayaknya hansip beneran. Hidup hansip !

Kita mahasiswi, dilarang keras mengurai rambut. Baik yang panjang maupun pendek, semua harus dikepang. Untung saja waktu itu rambut saya sudah panjang. Bayangkan teman-teman yang rambutnya masih tanggung, tapi harus di kepang juga. Hasilnya ? Yah, seperti penyanyi rap dengan rambut ala corn row deh ! — > tapi versi jeleknya.

Selama 1 minggu kita nggak dikasih waktu untuk mandi, masing-masing hanya boleh berada di kamar mandi selama 4 menit. Buat sikat gigi pun nggak cukup. Astaga…. !! Kayak nggak ada cara lain menyiksa aja kan ? Tapi saya (dengan berbagai daya dan upaya, berhasil ketemu ritual mandi setiap hari ! hebat kan ??).

Seminggu di Pangalengan, kita-kita meninggalkan gundukan heboh di dekat area kamar mandi.
Apaan tuh ?
Disposable underwear !!
Hehehe !!, sumpe, banyak…. banget….

Setiap hari, kita dijemur di bawah terik matahari yang super panas. Kadang-kadang pengenalan senjata (kayak mau perang aja gue). Atau, baris berbaris (penting ya ?). Bahkan, kadang-kadang cuma belajar nyanyi ! kalo udah gitu, gue dan teman-teman satu regu, langsung mengeluarkan senjata andalan : SUNBLOCK dengan 53 SPF ! Ga rela dong, pulang ke Bandung, ketemu pacar, eh gosong !. Si ibu yang ngajar kita terbingung-bingung melihat kami sibuk mengoleskan ’sunblock the saviour’ itu ke seluruh permukaan wajah dan tangan.

"Kalian lagi apa sih ?"
"Pake sunblock, Bu"
"Ha ? kenapa ?"
"Supaya ga item, Bu. (Kayak ibu –> yang ini dalam hati aja)"
You guys harusnya liat ekspresi wajah si ibu itu…..

Pernah ngerasain harus makan dengan piring yang sama selama 1 minggu dan dilarang mencuci piring itu dengan cara yang layak ? I’ve been there guys…. believe me..
Kalo mau cuci piring, kita tinggal mencelupkan si piring itu ke sebuah kolam besar (yikkksss). Sabun cuci ? Jangan ngarep ! Mensiasatinya, saya sediakan banyak plastik sayur seukuran piring, yang saya pakai setiap mau makan. Jadi kalo mau makan, saya tinggal mengalasi piring saya dengan plastik itu. Pandai kan ??

Pernah ngerasain makan nasi rasa minyak tanah ? Yang belum pernah, ga usah coba, karena rasanya ga enak-enak amat (?). Saya yang sangat pemilih dalam hal makanan bener-bener dibuat repot. Tapi saya sudah siap dengan seplastik besar abon sapi, dan satu toples kecil sambel !! Makanan ga enak, pasti tertolong dengan sambel deh…..

Back to policy kantor saya untuk upacara bendera setiap tanggal 17. Sorry deh… I’m not gonna do that. Bukan nggak menghargai temen-temen yang udah repot mempersiapkannya, I would help, anything, name it and I’ll do it. Tapi jangan upacara bendera, please…..

Is It Even Better If We Got Married (That Time) ?

Tuesday, December 13th, 2005

Kemarin, seorang teman dari jaman SD dulu mengirim e-mail. She just got married few months ago. I asked her how marriage life, and she answered "It’s a lot of fun".

Lots of fun, hmmm ? Exactly what I need lately.

Then she said, it’s even harder when you were boyfriend & girlfriend. Well, masalah pasti ada, tapi biasanya stupid things, so we’re sure we’re gonna work it out.

Emang begitu ya ? It’s even harder sebelum janji pernikahan terucap ? How come ? Bukannya lebih sulit lagi karena kita udah ‘terlanjur’ mengucapkan janji di depan Tuhan, dan bukan ‘hanya’ antar manusia seperti waktu zaman pacaran dulu ?
Atau ini berarti sekali kita ‘terperangkap’ di dalam sebuah pernikahan, kita nggak bisa ‘keluar dari situ’ seenaknya ? Atau menyerah begitu saja ketika masalah yang ada waktu pacaran mulai bikin kita ‘cape’ ? 

Guess it’s just unanswerable questions. I would know the answer, later if I were there already. Don’t you guys think so ?

Tapi pertanyaan itu tetap saja mengambang di benak saya. Berjalan kesana kemari di dalam kepala, menjeduk-jeduk rongga otak saya. Memaksa saya berpikir, menemukan jawab pasti untuknya. Tidak menemukan jawaban yang memuaskan, pertanyaan itu terus bermigrasi ke hati saya. Berharap menemukan secuil titik cerah yang dapat memuaskannya. Ah, kepala berisi otak yang telah saya asah selama 26 tahun pun tak mampu menjawabnya, apalagi hati saya ?

Bukannya titik cerah yang ada, malah sebuah tanda tanya BESAR kemudian muncul di dalam hati saya. Is it true ? Is it easier when we’re already bond in a marriage vows?

Kemudian sebuah pengandaian kurang ajar muncul.
"Kalau dulu saya dan si mantan akhirnya bisa mencapai jenjang itu……..
Will everything be much much easier for us ?
Or even it’s gonna be a much much bigger mistake ??"

Lalu ingatan saya melayang ke suatu malam. Saat itu saya dan dia duduk di Kafe Halaman, mencoba memecahkan berbagai masalah yang ada diantara kami. Mencoba mencari tau apa yang seharusnya sama-sama kami lakukan. Is it better for us to try and try again, or is it even better for us to (finally) give up.

Beribu argumentasi, pembelaan, pembenaran muncul dari kami berdua. Mencari jalan penyelesaian, dengan (bodohnya) tetap mencari pembenaran dari diri kami masing-masing. Lelah berpikir dan berargumentasi, sebuah pertanyaan gila muncul di benak saya (I tell you, rasanya seperti melihat biji jagung yang ‘meledak’ menjadi sebiji popcorn).

"What do you think if we get married, Hon ? Is it a way out for us ?"
Waktu itu, rasanya I would do anything as long as I could be with him.
Jawabnya pendek (dan cukup menyakitkan) ;
"Sama aja kayak bunuh diri, Hunny"

Sejak saat itu, saya nggak pernah mengajukan pertanyaan serupa sampai waktu tak terelakkan lagi, dan kami akhirnya harus berpisah juga.

Membaca e-mail dari teman saya itu, I get weak one more time. Dan saya tak mampu menghentikan pertanyaan itu untuk terngiang-ngiang kembali dan mengganggu saya. And what I hate the most, I still don’t know what the answer is……..

Shopping Must Go On

Monday, December 12th, 2005

Boleh aja nggak punya pacar. Tapi nggak berarti dunia berhenti berputar kan ? Begitu juga dengan kegiatan favorite, belanja ! The show must go on, begitu juga dengan shopping, harus terus dilakonin !

Kalau boleh jujur sih, kadar belanja saya setelah jadi cewek single, memang mengalami penurunan. At least, sekarang saya cuma pergi ke pusat belanja, dalam keadaan penting dan genting, seperti situasi-situasi di bawah ini ;
1. Kebelet pengen liat ada buku baru apa di Gramedia
2. Bosen sama warna lipstick yang itu-itu aja, jadi pengen beli warna baru
3. Penasaran liat barang apa yang lagi diskon
4. Pengen tau ada model baru apa di toko sepatu favorite

You guys may ask : "Penting ya Shas ?"
And I will answer (loudly) : "Jelas penting bangeds…"

So, kemarin, saya pergi belanja, sendirian. It was totally OK, I found some good things dari belanja sendirian, such as :

1. Nggak usah merasa nggak enak karena minta-minta anter pacar, dimana udahnya saya suka feeling guilty karena menyeret dia ke dalam perputaran kegiatan khas cewek ini.
—–> Feeling guilty nya sehari doang, besoknya udah "Anter jalan-jalan dong, Honey…" hehehe……..

2. Nggak ada yang bawelin kayak gini nih ;
"Lha, kan lipstick kamu yang kemaren belum abis ? Ngapain beli lagi sih ?"
Duh !
Wahai para cowok, tau ga sih, lipstik itu bukan sambel botol yang baru beli lagi kalo udah abis ?? Rrrggghhh……..!

3. Nggak ada yang sok nasehatin ;
"Apa nggak mendingan uangnya ditabung aja ? Buat yang lebih penting"
Denger nasehat kayak begini, masuk kuping kiri, keluar kuping kiri (nggak sempet masuk-masuk acan). Gw lagi work hard play hard ni….. Nabung nya entar deh ya…. Let me enjoy the money I earned my self.

4. Nggak ada yang sibuk nanya ;
"Novel tebel yang kamu beli kemaren emangnya udah tamat dibaca ? Kok beli lagi yang baru ?"
Nah ini, salah lagi. Beli buku baru, ya nggak perlu nunggu buku yang lama abis dibaca dong. Toh, nanti juga buku baru itu dibeli juga, it’s about time aja…

Tapi seperti mata uang yang bersisi dua, ada juga hal nyebelin dari belanja sendirian. Contohnya kayak gini nih ;
1. Orang-orang (terutama ibu-ibu), suka pada memandang dengan pandangan iba. saya menebak, isi pikirannya mungkin begini ;
"Aduh, kesian amat, cantik-cantik kok belanja sendirian. Dijodoin sama anak lelaki ku mau nggak ya ?"
Ehm….
Kemungkinan lain, pikirannya mungkin begini ;
"Amit-amit deh, semoga aja anak perempuan ku tak bernasib sama seperti perempuan malang kesepian ini. Belanja kok nggak ada yang nemenin"
Nah lho, ribet kan ? Makanya, dont care what people think lah….

2. Ketemu temen yang nyempetin nanya pertanyaan ga penting ;
"Lho kok sendirian ? si *nit* (-sensor-) mana ?"
Aduh… males banget ceritanya… Bukannya kemaren udah saya beberkan semua waktu konferensi pers ? (Naon sih ?).
Belakangan, kalo ada yang nanya begitu, saya jawabnya suka ngasal ;
"Oh, si *nit* (-sensor-) ada di rumahnya, kebeneran nggak ikut, lagi sibuk"
Nah, beres kan ?? Nggak perlu berpanjang-panjang.

3. Papasan sama pasangan yang (sok) romantis. Peluk-pelukan, bergandengan tangan & berpandang-pandangan mesra. Ih, pengen nyambit pake sendal rasanya. Makanya saya nggak pernah belanja sendirian di malem minggu (bayangin aja, berapa pasang sendal yang harus saya bawa ?).
—–> Ngaku aja sirik deh…..
————-> Iya deh, gue ngaku, emang sirik…

4. Nggak ada yang bisa ditanyain pendapat. Warna apa yang looks better on me. Belanja sendirian kemaren, saya sempet kebingungan milih warna baju yang mau saya beli. Karena nggak bawa penasehat, saya tanya aja sama SPG nya ;
"Mbak, warna yang mana yang lebih bagus buat saya?"
"Mmm, pink bagus, putih juga bagus. Beli dua-duanya aja gimana ?"
Eh, si SPG teh, azas manfaat pisan nggak sih ?
Tapi ini berbanding lurus sih, toh kalo nggak punya pacar, nggak ada yang komentarin kalo lipstik kita nggak bagus, ato baju nya jelek. Yah, yang komentarin sih ada aja, tapi kalo orang lain yang komentar kan nggak penting buat didenger. Ya ga ?

5. Pas mau pulang, repot di tempat parkir. Ngeluarin kunci, tiket parkire, uang parkir, naro belanjaan, eugh… ribet !

My_stuff_ Tapi after all, kegiatan belanja saya kemaren asyik banget ! Pas ke Gramedia, nemu bukunya Sophie Kinsella yang baru ! Aduh, doski emang the best of all ChickLit writers deh ! Beres nemu buku berjudul ‘The Undomestic Goddess’ ini, saya pun merambah ke daerah majalah. Ini dia kelemahan saya, gampang banget ketipu sama judul di cover. Pernah beli majalah yang di cover depannya ada tulisan ‘Belanja Jalan Terus, Nabung Nggak Usah Absen !’ Gimana nggak tergoda, itu kan dilema saya. ternyata, pas beli majalahnya, isinya cuma begitu-begitu aja, nggak mutu banget. Nggak usah dikasih tau juga udah ngerti sendiri, yang susah kan prakteknya.
Tapi kemaren saya sempet ngakak (dalam hati aja, wong sendirian kok). Liat Cosmopolitan edisi Desember 2005, yang covernya Scarlett Johanssen itu lho. Soalnya di covernya ada judul gini ;

‘Guide Bercinta dengan Rekan Kerja - New & Improved !’

Hahaha…. Sumpah mati, saya nggak beli majalah itu !!!

Dedicated to My Beloved Friends

Saturday, December 10th, 2005

You just call on my name, and you know where ever I am,
I’ll come running to see you again….
Winter, spring, summer or fall,
All you have to do is call
And I’ll be there, yes I will
You’ve got a friend…..

Thanks God I got a lot of friends. Once I thought I dont have any, but in facts I realize, they’re existed. And they were there for me in my difficult times. Without copying an Oscar Winner, or even a Panasonic Award Winner, I wanna say thanks to my beloved friends through this Blog.

1. MamaMama_tata_sangeh_2
    "You’re my trully friend, Mom. I thank you for always be there for me, supporting me, pray for me. Thanks banget Mom, buat kuping mama yang sampe panas dengerin anak sulungnya sesenggrukan di telepon. Diselingi masak, nemenin Abbe belajar, nganterin Abbe tidur, you’re always there for me. Thanks Mom, karena Mama saya bisa kembali tersenyum. Mulai sekarang, you don’t need to call me every morning and every night, just to make sure I’m OK, cause I’m totally OK now, Mom."

Soulmie_soulmie22. My soulmate, Lala
"Ah, apa jadinya gw tanpa lu, La. Thanks ya, for making me sure that someday we’re gonna laugh about this. Laughing out loudly, I guess". Thanks for made me realize that doa dari hati yang remuk itu besar kuasanya. Doa lu buat gue selalu make me stronger and stronger, La ! I love you so much, dear Soulmate….

3. RiniNgemilz
    "Rin, gw yakin kuping lu udah mau belah dengerin curhatan gw yang kadang ga penting. Acara mak-si kita setiap hari pasti aja diwarnai dengan keluh kesah gw. Kalo ada toko yang jual kuping baru, lu pasti gw beliin duluan, hehe."

4. Eder & AlvSmd_jaya1
    "Guys, you totally ruin my diet, but you guys make me laugh again. Meskipun harus mengorbankan harkat dan wibawa, you seem to will do anything to make me laugh again. Dan sukses banget, berkat lu-lu pade, gw ketemu lagi sama yang namanya ‘ngakak." 

5. DavidMeeting_charity4
    "Vid, asal tau aja, lu orang yang paling kejam kalo ngasih suggest, sumpah. Tapi lu bikin gw sadar kalo  reality bites and I have to face it. Analogi lu soal si dinosaurus yang akhirnya punah juga, bener-bener membuka mata hati gw, kalo ternyata sehebat-hebatnya dinosaurus, dia ga bakal menang ngelawan harimau, karena dia udah punah duluan. Thanks ya Oom Dino !."

6. Andy
    "Gw kangen ketawa-ketiwi ama lu, Ndy. Kapan atuh ga sibuk lagi jij teh ?."

7. Rizal
    "Zal, thanks ya, MMS lu emang sukses bikin gw tersenyum lagi. Segitu sibuknya lu, masih aja sempet nanya-nanyain kabar gw setiap hari. How lucky I am to have a friend like you."

8. Jeffta & Welly
    "Sadar ga sih, kalian bikin semangat gw bangkit lagi ??."

9. Ruth & Jeffrey
    "Thanks ya, udah nemenin malem minggu gw yang sempet kusut kemaren-kemaren. Tapi kalo kalian berniat menjodoh-jodohkan gw lagi, I’ll say loudly, ‘NO, THANKS !!’, huahaha….."

10. Rahma
   
"SMS Rahma, always strengen me. Teriakan-teriakan "CHAYO" nya, bener-bener bikin chayo. Thanks ya Ma, kapan dongk, kita ngobrol-ngobrol lagi ??"

Perempuan Aneh

Thursday, December 8th, 2005

Dengan terpaksa, saya harus mengakui, kalau saya ini memang perempuan aneh. Sebelah mana anehnya ya ? Mata ada 2, -normal-. Hidung 1 -normal-, hmmmm… semua normal. Tapi deep down inside me, saya (merasa), saya memang perempuan yang aneh.

Seringkali saya bangga dengan kemandirian saya. Menghidupi kebutuhan sendiri (walau masih numpang di rumah ortu), mulai bisa supply kebutuhan di rumah (terutama kamar mandi dan kulkas). Mulai bisa ngasih jajan buat adik-adik saya (kadang2 sih…). Dan yang paling asyik, bisa traktir nyokap gokil jajan, beli baju, beli bedak, dll…. I’m proud of that, meskipun seringkali suka terpekur sedih melihat buku tabungan yang saldonya ga kian bertambah. Eh, balik lagi ke kemandirian saya. Saya juga terbiasa pergi kemana-mana sendirian (kecuali kondangan, masih belum pede). Belanja sendirian ? oke. Nonton sendirian ? oke juga (meski suka males karena suka banyak yang gangguin jadinya). Dan kalo hasrat nongkrong lagi tinggi sementara temen nongkrong pada menghilang ditelan bumi, saya suka juga nongkrong sendirian, sambil ngopi, dan baca buku. Not as bad as it sounds kok.

Saya menyukai kepraktisan. Janjian sama temen ? Ketemu di tempat aja deh, ga usah pake repot-repot jemput ke rumah segala. Kan praktis. Lagipula saya jarang pulang ke rumah kalo belum mau tidur (saya jarang tidur malem sih, jam 10 udah top). Jadi janji ketemu temen, ya pasti langsung dari kantor. I do enjoy that, praktis ! Lagian suka kesel juga kalo nunggu dijemput, udah cepet-cepet, eh yang jemput telat. Udah santai-santai, eh yang jemput kecepetan datengnya, ah repot.

Tapi seringkali, deep down inside my heart, saya juga pengen diperlakukan seperti seorang perempuan ‘beneran’. Pengen juga, sekali-kali dijemput ke rumah, walau cuma sekedar pergi makan, atau nonton. Pengen juga sekali-sekali membiarkan seorang lelaki nungguin saya dandan berlama-lama (yeah, being trully a girl lah).

Ini yang seringkali jadi duri dalam daging dalam setiap hubungan yang saya jalani. Karena orang yang deket sama saya, pasti tau kalo saya cukup mandiri, bisa ngapa-ngapain sendirian. Tapi saya juga menuntut supaya orang ngerti kalo sometimes saya pengen ditemenin, pengen dianter-anter. Gawatnya, kapan saya pengen mandiri dan kapan saya pengen ditemenin itu nggak pernah jelas. Bener-bener muncul dari hati, intuitif.

Celakanya, saya menuntut orang untuk mengerti, sementara saya sendiri nggak ngerti. Waktu ada seorang lelaki yang bersedia jemput-jemput saya ke rumah, saya bilang sama dia, kalo ini nggak praktis, mending kita ketemu aja langsung di tempat. Bahkan, saya aja yang jemput ke rumahnya. Bukan apa-apa, saya paling males nunggu dijemput. Leher udah berasa tambah panjang, karena bolak balik mengintip dari jendela.

Tapi belakangan, saya malah ngomel-ngomel, karena punya pacar, tapi berasa nggak punya pacar. Saya bahkan bilang, kalo dia kurang ‘lelaki’ karena jarang banget jemput ke rumah (kecuali kondangan). Hmmmm, perempuan aneh…..

Bingung kan ?? Makanya banyak orang yang serba salah menghadapi saya. Terkadang saya sendiri nggak tau apa yang saya mau. Tapi berani-beraninya menuntut orang untuk ngerti saya. Pernah ada yang bilang, saya cuma pengen didenger, tanpa mau mendengar orang. Iya gitu ?  Separah itukah saya ?