Da Vinci Code
Monday, May 29th, 2006Topik hangat 2 minggu ini : Film yang diangkat dari novel sensasional karya Dan Brown, Da Vinci Code. Bener-bener bikin heboh. Sebenernya, kehebohan ini saya nilai terlambat karena sebetulnya, novel setebal ganjel pintu ini sudah beredar cukup lama. Tapi lagi-lagi minat baca kalah telak dengan minat nonton kan ? Menikmati karya ini, tentu lebih digemari dengan cara express. Secara baca buku kan nggak mungkin selesai dalam waktu 2 jam seperti durasi film.
Saya yakin, banyak ulasan sudah digulirkan mengenai Da Vinci Code. Dari mulai obrolan santai di warung kopi & kafe2, sampai slot khusus di radio rohani yang membahas secara khusus mengenai Da Vinci Code. Berarti, dari kaum awam sampai para pemuka agama, semua sibuk ngobrolin soal Da Vinci Code. Pembahasan tentu beraneka ragam. Ada yang geram karena merasa iman percayanya dilecehkan habis-habisan, ada pula yang sekedar tanya-tanya karena penasaran "kok saking hebohnya, nyeritain apa sih ?". Secara baca atau nonton sendiri mah males, gitu…..
Salut saya buat para pemuka agama yang berusaha meyakinkan para jemaatnya agar tetap berpegang teguh pada imannya, dengan berbagai cara dari membuat seminar singkat, menulis klarifikasi, sampai talk show on air via radio. Yah, daripada sekedar ribut-ribut mendesak pemerintah untuk menarik peredaran film ini ? Yang namanya manusia itu kan semakin dilarang semakin penasaran.
Membaca bukunya,kemudian menonton filmnya di hari premiere, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Imajinasi seorang Dan Brown memang "Memukau Nalar", tapi nggak harus "Mengguncang Iman" seperti yang dikampanyekan via cover buku setebal 630 halaman itu kok. Memang fenomenal. Banyak orang percaya yang dikhawatirkan akan terguncang imannya setelah membaca karya ini. Beberapa teman dan kerabat bahkan menjadi kelewat fanatik dengan mengharamkan buku ini, "Nggak mau nonton dan nggakmau baca !!", begitu katanya.
Mari sedikit berpikir santai dan membuka cakrawala luas-luas. Saya rasa, nggak ada ruginya menikmati Da Vinci Code. Anggap saja sebuah hiburan. Nikmati saja imajinasi Dan Brown yang luar biasa itu. Saya pun sempat tersenyum ketika mengetahui apa yang Dan Brown imajikan dalam karyanya ini. Saya khayal yang sungguh fantastis ! He is a trully fiction writer with great knowlege about history.
Apa yang dikhawatirkan seyogyanya nggak perlu bikin pusing begitu. Coba pikir, masa sih, iman yang sudah kita pegang teguh seumur hidup ini akan terguncangkan oleh sebuah pemikiran manusia dengan daya khayal sedahsyat itu ? Buat saya, yang namanya iman pasti lebih dahsyat daripada sekedar logika, tentu melebihi daya pikir yang harus selalu dibuktikan dengan fakta-fakta nyata. Saya nggak peduli dengan konsiliasi di Nicea, saya nggak peduli dengan pilihan Konstantin akan christianity. Saya lebih nggak peduli lagi dengan adanya 13 cawan perjamuan saat Perjamuan Terakhir. Apalagi soal sosok (yang katanya) wanita yang duduk di samping kanan Yesus dalam lukisan Last Supper karya Da Vinci. Come on guys, Group Band Seurieus tentu akan berteriak lantang, "Da Vinci juga MANUSIA……… !!!!". Dengan kemanusiannya itu, Da Vinci boleh menggambar apa aja yang dia mau, terserah dia dong ah. Toh, he wasnt there when The Last Supper held, kan ?
Iman, buat saya, nggak perlu yang namanya pembuktian. Nggak perlu bukti autentik yang bisa menegaskan iman percaya saya. I believe in Jesus, He’s my Lord, dan nggak ada satu pun pemikiran manusia atau buku2 sejarah manapun yang akan saya korek-korek untuk konfimasi iman percaya saya. Nggak perlu.
What about you, guys ?





