Archive for May, 2006

Da Vinci Code

Monday, May 29th, 2006

Topik hangat 2 minggu ini : Film yang diangkat dari novel sensasional karya Dan Brown, Da Vinci Code. Bener-bener bikin heboh. Sebenernya, kehebohan ini saya nilai terlambat karena sebetulnya, novel setebal ganjel pintu ini sudah beredar cukup lama. Tapi lagi-lagi minat baca kalah telak dengan minat nonton kan ? Menikmati karya ini, tentu lebih digemari dengan cara express. Secara baca buku kan nggak mungkin selesai dalam waktu 2 jam seperti durasi film.

Da_vinci_code3_1 Saya yakin, banyak ulasan sudah digulirkan mengenai Da Vinci Code. Dari mulai obrolan santai di warung kopi & kafe2, sampai slot khusus di radio rohani yang membahas secara khusus mengenai Da Vinci Code. Berarti, dari kaum awam sampai para pemuka agama, semua sibuk ngobrolin soal Da Vinci Code. Pembahasan tentu beraneka ragam. Ada yang geram karena merasa iman percayanya dilecehkan habis-habisan, ada pula yang sekedar tanya-tanya karena penasaran "kok saking hebohnya, nyeritain apa sih ?". Secara baca atau nonton sendiri mah males, gitu…..

Salut saya buat para pemuka agama yang berusaha meyakinkan para jemaatnya agar tetap berpegang teguh pada imannya, dengan berbagai cara dari membuat seminar singkat, menulis klarifikasi, sampai talk show on air via radio. Yah, daripada sekedar ribut-ribut mendesak pemerintah untuk menarik peredaran film ini ? Yang namanya manusia itu kan semakin dilarang semakin penasaran.

Membaca bukunya,kemudian menonton filmnya di hari premiere, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Imajinasi seorang Dan Brown memang "Memukau Nalar", tapi nggak harus "Mengguncang Iman" seperti yang dikampanyekan via cover buku setebal 630 halaman itu kok. Memang fenomenal. Banyak orang percaya yang dikhawatirkan akan terguncang imannya setelah membaca karya ini. Beberapa teman dan kerabat bahkan menjadi kelewat fanatik dengan mengharamkan buku ini, "Nggak mau nonton dan nggakmau baca !!", begitu  katanya.

Dan_brownMari sedikit berpikir santai dan membuka cakrawala luas-luas. Saya rasa, nggak ada ruginya menikmati Da Vinci Code. Anggap saja sebuah hiburan. Nikmati saja imajinasi Dan Brown yang luar biasa itu. Saya pun sempat tersenyum ketika mengetahui apa yang Dan Brown imajikan dalam karyanya ini. Saya khayal yang sungguh fantastis ! He is a trully fiction writer with great knowlege about history.

Apa yang dikhawatirkan seyogyanya nggak perlu bikin pusing begitu. Coba pikir, masa sih, iman yang sudah kita pegang teguh seumur hidup ini akan terguncangkan oleh sebuah pemikiran manusia dengan daya khayal sedahsyat itu ? Buat saya, yang namanya iman pasti lebih dahsyat daripada sekedar logika, tentu melebihi daya pikir yang harus selalu dibuktikan dengan fakta-fakta nyata. Saya nggak peduli dengan konsiliasi di Nicea, saya nggak peduli dengan pilihan Konstantin akan christianity. Saya lebih nggak peduli lagi dengan adanya 13 cawan perjamuan saat Perjamuan Terakhir. Apalagi soal sosok (yang katanya) wanita yang duduk di samping kanan Yesus dalam lukisan Last Supper karya Da Vinci. Come on guys, Group Band Seurieus tentu akan berteriak lantang, "Da Vinci juga MANUSIA……… !!!!". Dengan kemanusiannya itu, Da Vinci boleh menggambar apa aja yang dia mau, terserah dia dong ah. Toh, he wasnt there when The Last Supper held, kan ?Last_supper

Iman, buat saya, nggak perlu yang namanya pembuktian. Nggak perlu bukti autentik yang bisa menegaskan iman percaya saya. I believe in Jesus, He’s my Lord, dan nggak ada satu pun  pemikiran manusia atau buku2 sejarah manapun yang akan saya korek-korek untuk konfimasi iman percaya saya. Nggak perlu.

What about you, guys ?

Interview

Tuesday, May 23rd, 2006

Hari ini di kantor lumayan rusuh. Sayangnya bukan karena mall tempat saya bekerja lagi mengadakan sale up 70%. Tapi karena interview. Kok interview aja rusuh sih ? Iya, soalnya ini walk in interview !!

Nekad banget emang, hari gini bikin walk in interview. Tapi jujur aja, saya dan teman-teman nggak nyangka kalo yang dateng bakalan membludak begitu. Ternyata banyak juga orang yang cari kerja ya ? Seharian ini, pemandangan senantiasa melihat kerumunan orang berebutan ngisi aplikasi, nunggu berjam-jam, sama sekali nggak ada yang berani meninggalkan lokasi interview barang sedetik aja, takut kelewat panggilan kali ya. Bahkan ada yang sampe duduk-duduk di bawah lantai dengan muka kusam karena nunggu dari pagi.  Kursi yang disediakan cuma 30, eh yang dateng mencapai angka 550 orang. Gila aja.

Duh, hati saya lumayan mencelos. Ternyata cari kerja nggak gampang ya ? Orang sampe niat banget ngabis-ngabisin waktu seharian cuma buat di-interview lho. Interview awal pula, masih ada beberapa proses yang harus mereka lewatin. Setelah itu, belum tentu keterima. Setelah keterima, belum tentu betah. Ada juga yang baru 2 hari kerja, eh udah ngerasa ga kerasan.

Nggak gampang, folks. Cari kerja emang nggak gampang. Perbandingan lowongan dan pencari kerja gosipnya udah nggak seimbang lagi. Untuk 1 posisi yang vacant, bisa jadi kita harus bersaing sama 100 orang. Gila ya ? Iya….

Mau nggak mau, meskipun cape setengah mati dan ga kepengen mikir apa-apa (kecuali yang asyik-asyik, misalnya rencana libur lusa nanti), tapi saya nggak bisa mengenyahkan pikiran ini dari benak saya :

"kalo bisa, ini jadi tempat terakhir gue kerja ! ga usah nyari-nyari kerja lagi di tempat lagi"

Kamu berpikir saya karyawan yang super loyal ?

Nanti dulu, saya nggak sepolos itu.

Hari gini mikirin loyalitas ? gila aja….

Apa credit card bisa dibayar pake loyalitas ?

Apa nongkrong di Embargo bisa bayar pake loyalitas ?

Apa tiket bioskop bisa dibeli pake loyalitas ?

"Saya udah kerja 5 taun di perusahaan yang sama, Mbak. Kemarin ditawarin pindah ke perusahaan yang lebih gede, tapi saya tolak, karena saya karyawan loyal. Jadi saya dapet diskon 90 % kan Mbak ? 10 % nya saya bayar pake uang, sisanya saya bayar pake loyalitas."

Huahaha….. ga mungkin la yau….

Kembali ke pemikiran semula. Saya ingin ini jadi tempat kerja saya yang terakhir. Bukan karena loyalitas.

Dalam hati, saya ingin, someday nanti, I work for my self, kerja sendiri. Bahasa Jerman nya mah wirasuasta, kitu… Karena I gotta have better life someday, tapi ga dengan bolak balik interview seperti orang-orang yang saya lihat sesiangan tadi, males aja.

Eh, ini oleh oleh cerita waktu saya ditugaskan meng-interview seorang calon karyawan di kantor :

Saya : (sambil sok sibuk membaca formulir aplikasi), You didnt write down your strength here. Can you tell me what do you thing your strength is ?

Si Mbak : Hah ?

Saya : (tersenyum, "perasaan ini interview in english deh") Kelebihannya apa Mbak ? Kok nggak ditulis ?

Si Mbak : Maksudnya kelebihan saya Bu ?

Saya : ("bukan, kelebihan emak lu" - tetap tersenyum), iya, kelebihan kamu apa ?

Si Mbak : (berpikir)

Saya : (menunggu)

Saya : (masih menunggu)

Si Mbak: hmmmm, apa ya ? (matanya mengerling ke arah langit langit, seolah berpikir keras, keras sekali !)

Saya : (mulai nggak sabar) kelebihan kamu apa ? masa nggak ada sih ? pasti ada, satu aja, coba, saya pengen tau.

Si Mbak : (matanya berbinar, seolah menemukan jawaban paling fantastis sejagad raya) saya pinter ngegambar, Bu !!!

Saya : (nggak kuat nahan ketawa, padahal saya tau ini salah) huahahaha !!!, ok, tunggu kabar dari HRD ya ?

hihihi, believe it or not, it happened, guys…

O ya, ini oleh-oleh cerita dari walk in interview tadi siang :

HRD : Kelebihannya apa Mas ?

si Mas : Saya punya indra keenam, Bu.

huahahaha, penting ya ????

19118222451279s

——> alah, pusing…..

Confession of A Shopaholic

Saturday, May 13th, 2006

Have you guys ever heard about Rebecca Bloomwood ? Well, maybe some of us know her as Becky Blomwood. Never heard ’bout her ? I’ll tell you then ;

Sebenernya, Becky Bloomwood hanya hidup dalam imajinasi seorang Sophie Kinsella, novelis chick lit pujaan saya. Confession_of_a_shopahollic Tapi saya yakin, sosok Becky Bloomwood nggak cuma hidup dalam imajinya Kinsella. Sosok seorang Becky Bloomwood justru banyak exist diantara kita. Bahkan di dalam diri kamu, mungkin ? Saya berani ‘menuduh’, karena saya tau, ada "Becky" di dalam diri saya.

Seperti judul buku pertamanya, Becky dinobatkan oleh sang pengarang sebagai seorang ’shopaholic’. Siapa sih yang nggak seneng belanja ? Semua juga hobby belanja. Tapi coba cek, kadar nya udah sampe ’shopaholic’ belum ? Becky adalah seorang shopaholic sejati, belanja buat dia, nyaris sepenting tarikan dan hembusan nafasnya.

Nggak ada yang salah dengan belanja, people do that, people need that. You guys tentu pernah denger "Besar pasak daripada tiang?" Well, this what happened to Becky Bloomwood, dan (harus saya akui), pada saya. Bedanya, tidak ada satu pun bank yang pernah menelepon saya dan menagih payment atas credit card saya, nggak ada. Saya bayar semua tagihan saya dengan baik, supaya saya bisa belanja lagi dengan gembira. Is this right ? No, guys… I tell you, this is totally wrong. Filosofi belanja seorang Becky Bloomwood rupanya dengan mudah membuat saya mengikutinya. Buat seorang Becky Bloomwood, membeli sepatu hitam dengan harga yang sangat mahal, bukanlah pemborosan, melainkan sebuah investasi penting. 5 buah pantalon hitam yang ada di lemari saya, adalah sebuah investasi yang sangat penting bagi kehidupan bekerja saya. Coba aja pikir, kerja dalam 1 minggu aja cuma 6 hari, dan nggak mungkin banget setiap hari pake pantalon hitam kan ? What else ? Ok, I got only 2 ears but I got so many earrings so I have to buy this rack just to put them on. Don’t mention about my shoes, sometimes I forget that I already had certain colours, so I keep buying them, and then realize I got exactly the same colour and similar style, what a waste ! Belum lagi berjamurnya cafe-cafe asyik di Bandung belakangan ini. Duduk di tempat yang cozy itu, cost nya hampir sama dengan jatah sembako yang dibagikan buat warga miskin PER BULAN !!

Wah, hidup mahal ya ?

Mahal, kalo kita nggak bisa ngatur. Belajar dari pengalaman buruk seorang Becky Bloomwood, saya sekarang lagi belajar mengatur kembali hidup saya. I’m not saying that I’m not gonna shop anymore, that’s bullshit. Tapi sekarang saya akan jauh lebih selektif. Sampai akhir tahun nanti, saya nggak akan beli sepatu lagi (lagipula di rumah udah nggak ada space buat naro sepatu2 itu, hehe.) —> Yah, kecuali ada sepatu lucu banget dan murah banget kali ya, get real aja deh !

Anting ? Saya udah punya semua warna, semua model, so stop buying cute earrings will not make me killed, I guess.

Tapi jangan minta saya berhenti membeli buku, it’s just me, my life, reading books. Well, I guess buying some books every month won’t make me broke, kan ?

Saya nggak perlu menjual semua harta benda saya seperti yang dilakukan Becky Bloomwood untuk bisa survive dengan hidupnya, thanks God. Saya hanya perlu mengendalikan ‘darah’ warisan seorang Becky Bloomwood yang ada dalam diri saya.

If only I can thank Sophie Kinsella, karena dia telah menciptakan sosok imajiner seorang Rebecca Bloomwood, dan karenanya I’m getting a better life. Thanks Sophie ! Kinsella

—–> meet Sophie Kinsella !

Arisan! The Series

Thursday, May 11th, 2006

Sudah lama sekali rasanya saya nggak nonton televisi. Maksudnya, nonton acara-acara di televisi, gitu. Apalagi acara lokal. Yang import aja males nunggunya. Soalnya, saya kan buka tipe orang yang bisa tergantung jadwal. “Desperate Housewives, Indosiar-Jumat-Pk. 22.30″, ah, bukan kombinasi tepat buat masuk memori saya. Selalu lupa. Selalu terlewat. Menyiasatinya, langsunglah saya beli episode lengkap Desperate Housewives versi DVD, saya pun bisa nonton tenang, tanpa tergantung jadwal program, tanpa diganggu iklan pula. Sedep. Hal ini sama kejadiannya dengan serian FRIENDS, Sex & The City, The Nanny, dan beberapa serian lain. Secara saya ini penggemar berat sitkom gitu deh.

Tapi sudah 2 minggu ini ada magnet asyik yang mampu membuat saya mengingat jadwal tayangnya. Program acara baru ini pun mampu membuat saya buru-buru pulang supaya nggak kelewatan setiap episodenya.

Arisan! The Series ! Arisan02_1

Yeah, saya suka banget film Arisan! nya Nia diNata itu. Saya suka ceritanya, suka gaya Nia diNata menggambarkan gaya hidup era ibu kota sekarang, suka pula sama pemain-pemainnya. Saya bahkan suka soundtrack yang dinyanyiin Ren Tobing, plus video klipnya, bener-bener meaningfull dan keren abis. 4 jempol saya buat Nia diNata (Maaf kalo yang 2 agak bau, maklum jempol kaki, hehe).

Eh taunya Arisan! dibuat serialnya ! Dan asyiknya, pemainnya rata-rata masih sama (seinget saya, cuma Nico Siahaan aja yang diganti ya, dan beberapa pemeran nggak penting lainnya, kali). Nggak seperti serial Ada Apa Dengan Cinta yang memasang pemeran-pemeran baru yang nggak jelas asal usulnya (Yang peranin Rangga, bisa siapa aja, asal sama keriting sama Nicolas Saputra kan ?)

Cerita serial Arisan! ini juga asyik, dikembangin dari filmnya. Jadi yang belum sempat terbahas dalam durasi 2 jam, diterusin lagi di ANTV setiap Senin dan Selasa Pk. 21.30 (sekalian promosi, sekalian cari temen nonton). Sayangnya, sampe sekarang saya belum nemu temen yang bisa diajak membahas soal Arisan! The Series, belum ketemu temen sejiwa lagi ni. Eh, mumpung inget, kemaren Rini sobat saya di kantor dengan semangat bilang gini, “Ta, gue baru beli DVD Memoirs of a Geisha !, jadi next time lu ngomongin itu lagi, gue udah bisa nyambung !” Oh my God, Rin, kita udah berenti ngobrolin Zang Ziyi dari kemaren-kemaren tuuuhhh….. hehehhe..

OK, back to Arisan! The Series, berikut ini daftar kesukaan saya soal serial itu :

1. Actingnya Cut Mini, keren abis…… Saya nggak habis pikir, kok ga ada produser sinetron yang ‘ngeh bakat luar biasanya itu. Eh, atau dia maen sinetron juga sih ? Secara nggak pernah liat sinetron sama skali, gituuhh….

2. Suara dan aksennya Aida Nurmala yang sumpah mati, cute abis !

3. Actingnya Rachel Maryam sukses banget bikin saya sebel sama tu’ orang. It means, she acts great, kan ?

4. Gaya serial nya, bikin betah nonton, ga kayak nonton sinetron.

5. Iklannya belum banyak-banyak amat, hehe. Para vendor belum nyadarin kalo ini program keren kali ya ? Apa marketing ANTV kurang gesit bergerak ? hehehe….

Nongkrong bareng bareng yuk ! Di ANTV, Senin&Selasa jam 21.30, ada Arisan! The Series, don’t miss it, cause I won’t !

The Power of Earrings

Tuesday, May 9th, 2006

Coba lihat apa yang telah dilakukan sepasang anting imut nan cantik ini Image02 pada saya ;

Pertama-tama, dia berteriak dengan suara nyaring, menembus gendang telinga saya, sementara saya yakin suara itu tak akan terdengar oleh orang lain.

Anting imut nan cantik :

"Hey, you aint got red earrings yet !"

Saya :

"I do have one pair, the one my auntie bought from Thailand

Anting imut nan cantik :

"But not as cute as us, isnt it ??"

Apa daya, saya hanya seorang manusia biasa yang seringkali tak lekang oleh cobaan, maka dalam kurun waktu kurang dari 2 menit, si anting imut nan cantik pun berpindah tempat ke tas saya, PLUNG !

Si penjaga toko pun tersenyum manis ketika selembar uang pecahan lima puluh ribuan seolah melompat ke tangannya.

Kedua, sepasang makhluk imut berwujud anting itu sudah berhasil menggerakkan tangan-tangan saya untuk mengaduk-ngaduk isi lemari, mencari atasan berwarna merah that would match the earrings. Saya pun menyadari sesuatu.

Saya :

"Stupid me ! I ain’t got red top !"

Malaikat baik di sisi kanan :

"Kan punya yang sabrina itu ?"

Malaikat jahat di sisi kiri :

"Tapi itu kan nggak bagus dipake dengan blazer, ga bisa dipake ngantor dong"

Tak tahan dengan perdebatan sengit itu, saya sebagai pemegang hak mengambil keputusan satu-satunya pun segera bertindak, mengambil sebuah keputusan penting demi terjadinya perdamaian dunia.

Saya :

"Sudah, sudah, besok kita beli tank top merah, looks good with blazer, lagipula harganya nggak ngajak bokek. Nah, everyone’s happy kan ?"

Ketiga, beres beli tank top merah itu, si mbak SPG tersenyum sama saya.

Mbak SPG :

"Enak ya, kalo kulitnya putih, pake warna genjreng apa aja keliatan bagus"

Yang namanya pujian, tentu beda sama omelan. Kalau omelan masuk kuping kiri keluar kuping kiri (bahkan ga sempat ketemu kuping kanan), pujian itu masuk kuping kiri, sampai ke otak kanan, yang kemudian mengirimkan sinyal penting ke lubuk hati terdalam, yang diteruskan lagi ke otak kanan, sehingga muncul sebuah pemikiran nan mutakhir.

Saya (dalam hati) :

"Iya ya, kok koleksi fashion saya didominasi coklat, hitam, dan putih ? Where’ve I been atuh ?"

Berbekal penemuan mutakhir mengenai saya yang will look good dalam warna-warna genjreng, malam harinya saya menemukan sebuah kaos pink super keren di etalase sebuah butik. Hey, did I mention how much I hate pink ? Tapi rasa tidak suka saya kesampingkan sementara. Ini bukan masalah like and dislike, tapi masalah kelangsungan koleksi fashion saya yang harus segera diselamatkan dari warna-warna membosankan. Tapi Tuhan memang baik sama saya, ternyata kaos itu pun diproduksi dalam warna orange. Gampang ditebak, kaos super keren itu kini jadi penghuni lemari baju saya.

Kelima, ini malam hari. Bahkan sudah lewat midnight. Saat orang-orang rumah mulai berdengkur perlahan dan pacar saya bolak balik sms, "Belum tidur, Say ?", benak saya dipenuhi bayangan indah berisi si kaos super keren. Angan saya melayang, membayangkan betapa kerennya kaos itu kalo dipadukan dengan sabuk hitam kulit yang saya lihat waktu window shopping tadi sore.

Saya :

"Beli aja gitu, tu’ sabuk ?"

Malaikat baik di sisi kanan :

"Dasar boros !"

Malaikat jahat di sisi kiri :

"Kan udah lama ga beli sabuk. Sabuk yang terakhir dibeli, bahkan ga lebih mahal dari segelas Italian Soda rasa Cherry di Gloria Jeans Café kan ?"

Sekali lagi, demi terjaganya perdamaian dunia, saya harus mengambil langkah tegas, "Besok gue beli tu’ sabuk".

Belum selesai, jangan seneng dulu. Setelah urusan kaos dan sabuk menemui titik temunya, sebuah peluru berdesing mengacaukan perdamaian dunia yang baru saja tercipta.

Bunyi desingan peluru nyaris menyerupai bisikan :

"Eh, kapan dimana itu, kok pernah liat sepatu keds maha keren warna orange ya. Aduh, liat dimana ya ? Lucu kali, buat ngantor hari Sabtu?"

Sekarang ini jam 1 dini hari dan saya masih berpikir keras mengenai sepatu keds orange maha keren itu.

Sementara berpikir soal sepatu keds orange maha keren, tanpa sadar jari-jari saya sudah bermain diatas keypad nokia, mengirim sebuah pesan penting pada tante saya yang memang produksi sepatu, "Tante, aku pesen sepatu merah suede dong, ukurannya biasa. Kalo udah ready, let me know ya, thanks"

Nah lega, urusan sepatu keds orange maha keren kita pikirkan lagi besok keberadaannya. Sekarang saya mau tidur dulu.

Hmm, saya udah bilang, kalo ini semua karena sepasang anting imut nan cantik kan ? Mau ngingetin aja…………

I Do Believe in Chemistry

Tuesday, May 9th, 2006

Hari ini saya menggebu-gebu sekali. Pengen banget cepet-cepet duduk depan kompie dan posting. Kayaknya harus hari ini juga. Walaupun baru sembuh sakit dan harusnya tidur, tapi posting hari ini nampak lebih penting dari apapun juga. Bukan apa-apa, ada satu hal yang lagi menggelitik hati nurani saya. Temanya ? Ga jauh-jauh, folks, masih juga soal cinta.

Pernah ga, you guys, lagi jalan-jalan trus papasan sama sepasang anak manusia (alah, bahasanya !), yang menurut pandangan subyektif nampak ga imbang ? Begini contohnya, misalnya si cowok keren abis, tinggi, dan nampak cool. Eh, cewek yang digandengnya, kok kurang cantik ya, misalnya aja doi berkulit gelap plus jerawatan, ga semampai, eh bajunya ga matching pula. Situasi lainnya, ada cewek yang super keren, bodi nya nggak kalah sama Catherine Wilson, tampangnya nggak kalah keren dari VJ Rianti Cartwright (bener ga nulisnya, not an MTV’S fan sih). Eh, si cewek digandeng sama cowok yang ga ada setengah nya tampang VJ Daniel (secara si Daniel aja nggak cakep, hehe).

Kemungkinan pertama yang paling mudah merasuki benak you guys (dan saya, jujurnya), tentu aja : There must be something yang dikejar nih. Apalagi kalo bukan materi. Yah, let’s say satu diantara mereka (udah pasti yang good looking deh), mungkin matre, sehingga mereka merelakan diri jalan sama yang (secara fisik) sama sekali nggak bisa mengimbangi diri mereka sendiri.

Oke, akui aja, saya juga sering berpikir begitu kok. Apalagi kalo si cewek tipe berbodi aduhai ala Anissa Bahar, dan si pria lewat paruh baya, yang ga ada keren-kerennya, tapi bawaannya BMW. Wah, jujur ni ya, pandangan langsung miring deh. Forgive me God aja deh…..

Tadi malam saya menyadari sesuatu. Apa yang jadi standard memilih pasangan ? Buat saya, hal ini nggak bisa ditawar :

1. Nyambung

2. Selera musiknya OK

3. Lebih pinter dari saya

4. Seiman (sekarang saya punya standar ini, dulu engga, hehe)

Bukan sedikit lho, lelaki yang masuk standar itu tapi akhirnya nggak jadi sama saya. Kenapa ? It’s chemistry, guys. And it cant be explained. You just have to feel it. Dan buat saya, chemistry itu penting banget !, jauh lebih penting dari sekedar pake baju & sepatu yang matching, hehe. One great thing from chemistry, tampang jadi nomer 5. Materi jadi nomer 117. Have you ever been there, guys ??

Well, buat yang udah nemuin chemistry itu, congratulation ! Karena ternyata nggak semua pasangan yang berpacaran mengerti apa maksudnya. Bila udah ngrasain yang namanya chemistry itu, trus ketambahan pula ternyata cowok / cewek kamu good looking, yah, anggap aja itu bonus ! Itu yang saya alamin sekarang, chemistry + bonus !!

Mytata2 —–> Me, who believes in CHEMISTRY