Hari minggu kemarin saya duduk di sebuah salon. Menata rambut untuk undangan pernikahan seorang teman. Seperti biasa, duduk di salon merupakan waktu mewah saya untuk duduk tenang sambil baca majalah. Nggak peduli majalahnya udah kelewat beberapa edisi, teuteup aja asyik. Sementara sang stylist mengeringkan rambut saya, mata saya tertumbuk pada foto seorang perempuan cantik yang tersenyum cerah. Si samping foto itu tertera identitas pribadi si pemilik senyum manis ;
Laras, 25 tahun, Lajang, Senior Sales Manager.
Wah, saya sempat kagum juga, umur 25 kok sudah menjabat manager ya, senior pula. Tak sabar, saya membalik-balik halaman majalah itu. Pemandangan serupa saya dapati di halaman berikutnya ;
Sandra, 27 tahun, Menikah, Public Relation Manager.
Hmm… Sudah menikah pula lho ! Tak cukup sampai disitu, masih ada lagi tulisan-tulisan serupa ;
Alexis, 26 tahun, Lajang, Marketing Communication Manager.
Hmm, rasa kagum yang sempat tersirat sejenak tadi kok langsung menguap menjadi minder (Daftar isi kepala saya : 50% minder sementara 50% iri). Nggak bohong, saya minder lho ! Umur saya sekarang 27 tahun. 8 bulan ke depan umur saya sudah 28. Belum menikah (sementara ada 4 undangan pernikahan teman yang harus saya hadiri bulan ini. Bunuh aja gue sekalian). Pekerjaan sudah ada, tapi ya begitu-begitu aja. It’s not that I don’t love my job (it’s not that I love it either). Yeah, here I am, dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Nggak terlalu menguras pikiran dan tenaga, tapi kok malah bikin stress.
Sebuah pilihan : Jadi ikan paus di kolam kecil ? Atau jadi ikan teri di kolam besar ? Maksudnya begini. Kalau kerja di perusahaan kecil, otomatis pangkat dan jabatan tentu terkatrol ke atas dengan mudah. I’ve been there. Bekerja di sebuah perusahaan kecil, pangkat saya waktu itu, Manager Operasional. Duh gaya. Padahal sebenarnya kerjaan saya nggak penting-penting amat rasanya. Pindah ke perusahaan yang lebih besar, gelar berpangkat ‘manager’ tentu segera saya tinggalkan di belakang.
Memang sih, semua pilihan tentu lengkap satu paket dengan konsekuensinya. Bekerja di perusahaan kecil, nggak ribet dengan jadwal kerja dan jadwal off. Kalo kerjaan lagi numpuk, resiko saya menghabiskan waktu di tempat kerja sampai larut malam. Atau bahkan nongkrong disana sejak pagi-pagi buta. Saingan sama yang mau jogging kan ?
Tapi enaknya, kalau saya ada keperluan yang nggak bisa ditinggal, saya bisa meninggalkan kantor dengan hanya bermodalkan sms pada si boss. “Mbak, sorry, aku hari ini nggak dateng, soalnya, bla…bla…bla…”. Sudah beres.
Bekerja di perusahaan yang lebih besar, tentu tidak seenak itu. Untuk semua perubahan, tersedia formulir yang harus diisi lengkap dengan tanda tangan atasan. Seringkali bikin ribet, apalagi saat suasana lumayan mendesak. Belum lagi atasan yang seringkali tidak di tempat. Wah repot deh.
Eh, kok ngelantur. Kembali lagi ke masalah ikan-ikanan yuk ! Maksud saya, kembali ke masalah pangkat dan gelar kerja. Pernah ga you guys ngerasain apa yang saya rasain sekarang ? Memang sih, majalah itu tidak mencantumkan di perusahaan apa dia bekerja. Tentunya jadi manager di sebuah event organizer yang digalang bersama teman-teman dekat toh bukanlah sesuatu yang istimewa kan?
Tapi teuteup aja, bikin minder. Nggak terbayang bila suatu hari nanti ada wajah saya terpampang di sebuah majalah dengan judul begini : Shasya, 27 tahun, Lajang, Pegawai biasa-biasa saja. Hehehe……
Desperate nya saya menjadi pegawai biasa-biasa tentu menimbulkan sedikit-banyak pertanyaan. Saya bisa melihat sebagian dari kalian mulai tersenyum sinis, “Lu aja kali kerjanya emang biasa-biasa tanpa prestasi tertoreh yang mendongkrak jabatan”. Eh, ada juga yang berpikir, “Sudahlah, yang penting bekerja. Secara masih banyak orang nganggur gitu lho !”. Nah ini dia, kalo udah begini, saya ingin sekali mencoba bekerja di tempat yang lebih besar dari tempat saya bekerja sekarang. Sebuah tempat yang lengkap dilengkapi dengan catatan prestasi karyawan, yang dicatat dengan baik oleh mereka yang memang bertugas memperhatikan catatan prestasi tersebut. Sebuah tempat yang dilengkapi dengan prosedur standar yang bisa diikuti dalam segala situasi. Jadi nggak perlu bingung setiap mau bertindak. Toh ada prosedur standar yang selalu bisa jadi koridor setiap saat ada keputusan yang harus diambil.
Begitulah, nggak nyangka duduk di salon hari itu ternyata menghasilkan sebuah pemikiran yang bikin pusing. Mulai besok, kalo ke salon, saya bawa bacaan sendiri aja.
Eh btw, ini hasil nyalonnya :
lumayan kan ??