Archive for October, 2006

Learning To Ignore Things is One of The Great Paths to Inner Peace

Friday, October 13th, 2006

‘Learning to ignore things is one of the great paths to inner peace’

Don’t you guys think there’s something deep meaning in the sentence above ?

Dalam masyarakat Indonesia dimana semua orang saling mempedulikan orang lain, saya pikir harus ada orang yang mulai mempertimbangkan kata-kata diatas. Sadar kan ? Kalau semua urusan kita ternyata bisa jadi urusan orang lain di masyarakat majemuk ini.

Seorang teman curhat saat ia sempat dikejar debt colector ; “Gila aja, gue yang punya utang, orang sekantor semua tau !”.

Pasalnya, pas dia nggak ada, teman seruangannya berinisiatif menjawab telepon di mejanya. Inisiatif nya sih oke. Tapi ikutan menyebar berita itu berasa jadi public relation itu yang kurang oke kan ?

Atau curhatan teman saya yang satu ini ; “Gue mau aja nemenin bos gue yang baik hati itu makan siang sekali-kali. Tapi apa kata orang, kalo sekretaris makan sama bosnya ? Bisa-bisa gue disangka bis-pak (baca : bisa dipake) kali”

Belum lagi ini, dijamin semua kita pernah mengalaminya ;

“Jangan keluar malem-malem, apa kata orang nanti ? Anak perempuan kok keluarnya sampe malem”

“Jangan terlalu lama pacaran, cepat-cepat menikah aja, daripada jadi omongan orang”

“Jangan pake baju terbuka dimana-mana begitu, apa nanti kata orang”

Fiuh ! Banyak amat yang harus kita pikirin ya ? Nggak bisa keluar malem hanya karena takut dituduh yang engga-engga. Nggak bisa menikmati masa pacaran yang indah (atau memang belum dilamar) hanya karena nggak mau diomongin orang. Nggak bisa mengekspresikan diri dengan fashion, cuma karena takut disangka cewek nggak bener juga.

Wah, repot. Di sela-sela banyaknya pikiran dan beban hidup yang kian menghimpit, kita masih aja harus mikirin kata orang.

Tapi apa iya, dengan mikirin kata orang kita bisa jadi lebih bahagia ?

Apa iya kita bisa jadi manusia yang lebih baik dengan mikirin apa kata orang ? Mari kita bermain dengan sedikit akal dan logika.

Si orang-orang dengan perhatian super tinggi itu (baca : usil), apa sesungguhnya mereka peduli sama kita ? Misalnya saat ngomongin kita pake baju sedikit terbuka.

Apa mereka sunggguh peduli akan kesehatan kita, jangan sampe kita masuk angin, misalnya.

Atau apa mereka khawatir kita jadi korban pelecehan seksual di jalan ?

Atau jangan-jangan cuma sekedar sumbang suara sumbang aja sih ? Karena merasa body nya kurang oke untuk pake baju se-sexy kita, misalnya (baca : sirik).

Contoh kasus yang lain, saat kita sedang menikmati masa pacaran. Terus akhirnya kita ‘dipaksa’ menikah hanya karena takut jadi omongan orang (misalnya kita pacaran 5 taun tapi tak kunjung menikah). Omongan orang bisa macem-macem kan ? Dari disangkanya hubungan tak disetujui salah satu pihak keluarga. Atau disangka sang pria cuma mau iseng-iseng aja, atau bahkan disangkanya sang pria ternyata sudah berkeluarga alias suami orang !

Kreatifnya manusia memang banyak muncul saat ngomongin orang ya. Masa iya kita mau mengambil keputusan paling pentig dalam hidup kita hanya karena omongan orang ?

Yang bener aja ah.

Back to the question ;

Apa iya, mau hidup kita dikendalikan omongan orang yang (saya yakin) sebetulnya nggak peduli dengan kualitas hidup kita ? Belum lagi saat kita melakukan hal yang benar, eh teutetup aja dianggap salah, maklum, persepsi orang kan beda-beda ya ? Yang bener buat kita, belum tentu bener dimata orang. Apalagi saat kita beneran salah ? Tambah nista aja kita di depan orang-orang itu kan ?

Boleh nggak saya membagi sedikit pengalaman mengenai disfungsional masyarakat kita ini ?

Bukan satu-dua-tiga kali saya mengalami hal beginian. Sering ! Pasalnya saya memang nggak mau pusing mikirin pendapat orang mengenai diri saya pribadi. Bukan hal yang mudah. Wong saya hidup di Indonesia kok. Untuk mengamati saya yang kecil ini, bisa melibatkan ratusan pasang mata di lingkungan sosial ; di kantor, di rumah, bahkan di jalan dengan pikiran dan imajinasi nya masing-masing.

Tapi saya punya pemikiran baru yang saya anggap mutakhir. Setiap kali saya terganggu dengan apa yang kemungkinan orang bicarakan tentang saya. Saya selalu berpikir ;

"Dimana mereka –sang pemerhati masalah- itu saat saya sungguhan tertimpa masalah ?"

"Well, actually what have they DONE for me ? "

"Dimana mereka dan apa yang mereka lakukan untuk saya saat saya sedang susah ?"

NOL BESAR.

Saya nggak bicara soal seorang sahabat disini. Saya bicara soal mereka yang ada di sekitar kita sebagai penonton dan komentator. A best friend is someone who really cares about how you are. Tapi seorang penonton dan komentator sudah bisa puas dengan punya obrolan menarik dengan sesamanya mengenai kita.

note : this is a message for you my friend, who many times afraid to do something just because worrying what people will say about you. It’s your life, you have rights to do what you think the best FOR YOU, not for anyone else. Good luck !

Hadiah Sempurna Untuk Seorang Narsis

Sunday, October 8th, 2006

Kemarin sore waktu saya sakit itu, seorang sahabat, sebut saja namanya Ruth, (karena memang itu namanya, hehe) dateng ke rumah dengan 3 misi penting ;

1. menengok

2. mengajak bisnis

3. mengantarkan kado ! (to be noted, my birthday was like a century ago). But still… it’s nice cause I know how busy she is.

Waktu dateng, dia agak antusias dan ‘memaksa’ saya membuka kadonya. Setelah saya buka,

Oh my God !!! sampe speechless rasanya. This is what she gave to me:

A_gift1Sebuah hadiah sempurna untuk seorang narsis seperti saya bukan ? Jadi ceritanya, dia grab (hampir) semua stock foto di profile friendster saya, dan itulah jadinya !

Wow…. I like it so much !!

Yang membuat hadiah itu tambah istimewa, she put these words :

Because we’re both so busy, It’s hard for us to find the time to talk

Or do things together the way we used to

But even though our lives have changed,

Our friendship is so much a part of me

That just thinking about you makes you seem close

And in my heart, ……… I know you are.

Happy Birthday !

Apalagi sih, yang kita harapkan dari sebuah persahabatan ?

Apalagi di kala semua hal nggak sama seperti dulu lagi

Nggak lagi pake seragam abu-abu putih yang sama setiap hari.….

Nggak lagi ketemu di sekolah untuk duduk satu meja setiap hari…..

Nggak lagi diem-diem makan roti di kelas karena nggak sempet sarapan…..

Nggak lagi nyanyi-nyanyi di kelas berasa seperti AB Three…..

Nggak lagi naik motor sampe ke Taman Safari di Cisarua Bogor itu dengan (mantan) pacar masing-masing…..

Nggak lagi latihan dance dengan kostum silver-silver yang norak itu…..

Nggak lagi saling curhat masalah cinta yang ga penting ala ABG itu…..

Bahkan belum tentu saling bertelepon dalam 3 bulan.

There we are, busy with our own things.

Tapi itulah, true friendship nggak terhalang sama terhentinya aktivitas-aktivitas rutin. Di saat semua berubah, ternyata saya masih dekat di hatinya. Sama seperti dia selalu dekat di hati saya.

Ruth, so sorry if I haven’t thanked you properly yesterday.

But this blog, is totally presented for you, for our friendship.

And I really thank you for what you gave to me, it shows how thoughtful you are.

And I always know that I’m blessed to have a friend like you…. Ruth

—> kenalan deh, ini Ruth !, manusia setengah dewi :)

Maid of Honour

Friday, October 6th, 2006

..Suka pada nonton sitkom FRIENDS ga ? Friends Hari ini tiba-tiba saya inget episode waktu si Monica mau married dan dia bingung mau miih siapa antara Phoebe dan Rachel buat jadi maid of honour nya dia. Rachel dan Phoebe pun saling berlomba buat terpilih jadi maid of honour. Secara nggak tau yang mana yang harus dipilih, akhirnya mereka berdua terpilih jadi maid of honour buat Monica.

Pernah diminta untuk jadi seorang maid of honour ? Saya pernah. And I tell you, it’s a wonderful thing. Hampir 2 tahun yang lalu, soulmate saya si Lala menikah. Dan tanpa perebutan tahta yang berarti, saya terpilih menjadi maid of honour. Sebetulnya tidak ada perebutan tahta sama sekali, karena Lala juga nggak punya kandidat lain untuk jadi maid of honournya. Yah, kecuali saat H-2 saya mendadak demam tinggi, Lala pun mendaulat the dressmaker untuk menggantikan saya. Untung aja H-1 saya mendadak sembuh (didukung keinginan kuat untuk mendampingi soulmate saya di hari bahagianya).

Ternyata menjadi seorang maid of honour nggak cuma sekedar dandan cantik dan pasang senyum. H-1 sebelum pernikahannya, Lala dan saya ngobrol sampe nyaris pagi, hanya berdua, di atas ranjang berkelambu, (ehm…). Trully I was so happy for her. Sekaligus ada sayatan perih di dalam hati saya, karena saat itu hubungan saya dengan si mantan lagi nggak baik dan sama sekali tidak ada titik cerah menyusul Lala ke jenjang itu.

Maid_of_honour1Hari H tiba, kami mendadak sontak sibuk setengah mati. Telat mandi, telat dandan. Saya mungkin satu-satunya maid of honour di muka bumi ini yang dandan ditungguin sama pengantin perempuan. Kebodohan saya nggak cuma sampe situ, saat Lala menitipkan kuku palsunya yang lepas saat pemotretan, I lost it. And the bride was very upset about it (Sudahlah La, cuma kuku aja gitu looohh).

The wedding ceremony went very well, dibasahi dengan air mata dari the bride and the groom, juga air mata saya, maid of honour nya. Happy for you, soulmate.Maid_of_honour2…..

Beberapa bulan lalu, ada kerabat keluarga yang menikah. Seminggu sebelum pernikahannya, dia meminta saya menjadi maid of honour nya. And I said NO, easy, I said NO. Semua bilang saya sombong, ada juga yang bilang saya sok sibuk.

Yang ada di pikiran saya saat itu hanyalah it takes more than just knowing a person to be her maid of honour. You gotta have something with the bride. It’s beautiful when your best friend asks you to be her maid of honour.

Yeah, it’s an honour……….

And when I get married someday, I know whom I’ll give the honour to. Hopefully you’ll be there for me….

Happy (belated) anniversary, soulmate…….Maid_of_honour3

It’s A Birthday Gift

Thursday, October 5th, 2006

Bulan ini, blog saya ulang tahun. Masih taun pertama, it’s nothing. Tapi saya punya kado ulang tahun untuknya. Apa sih yang bisa bikin lousy writer seperti saya ini seneng ? Nggak lain nggak bukan, kalau tulisan saya bisa menginspirasi yang baca. Yeah, it’s totally a BIG thing for me. Waktu sakit hari pertama kemarin, sebuah sms mampir di handphone saya, “Shas, gue ke kantor lu ya”. Saya bales “Sorry, gue lg sakit, ngga ngantor”. Dibalas lagi, “Ya udah gue ke rumah lu, 5 menit aja”. Mmm, kepala pening terpaksa berpikir keras kira-kira apa yang sebegitu pentingnya sehingga dia harus menemui saya saat itu juga. Belum selesai kepala lemot ini berpikir (maklumlah, lagi sakit !), teman saya itu udah dateng sambil membawa sebuah undangan cantik berpita coklat. Si_pita_coklat

Saya kaget. Iyalah, I don’t even know if he has a girlfriend !. Dia tersenyum manis dan membuat saya terbang tinggi, “Kalo nggak baca blog lu, mungkin gue nggak menikah sekarang, Shas”. Gosh ! someone decided to get married based on what I wrote !. It IS a big thing !.

Saya jadi semangat menulis lagi deh.

Selamat ya Bro ! Semoga pernikahannya langgeng . See you at the wedding !

Image01