Archive for November, 2006

Aku dan Setrikaan

Wednesday, November 22nd, 2006

Menikah itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Bayangkan saja, bila sebelumnya setiap malam kita menunggu-nunggu hari esok tiba untuk ketemu lagi dengan pacar tercinta, sekarang tinggal melirik ke sebelah kanan, eh, there he is !, lying next to me. Membuka mata di pagi hari, eh, there he is juga ! Lengkap dengan suara ngoroknya, dengan rambut super duper acak2an, tapi malah membuat hari di dunia saya semakin menyenangkan. What a wonderful life…

Tapi yang namanya dunia nggak akan terus-terusan memberi yang manis-manis aja kan ? Nah, tibalah saat menyeterika. Oh my God ! I hate this stuff !

Saya juga nggak ngerti, sejak perjumpaan pertama dengan yang namanya setrikaan, kami udah nggak akur. Kemeja suami saya yang baru dibeli dan belum pernah dipakai, terpaksa diungsikan ke pojokan lemari bagian ‘baju nggak dipake’, nggak lain nggak bukan, akibat ketidakcocokan saya dengan sang setrikaan. Belum lagi saat saya menyeterika kemarin, setrikaan yang saya simpan di meja mendadak jatuh, dan kemudian mati. Sumpah, nyebelin banget. Padahal setrikaan baru dong.

Bukan suami saya kalo nggak mengerti kesusahan istrinya. Setelah beberapa korban berjatuhan akibat perseteruan saya dengan setrikaan, akhirnya dia menyerah dan lalu kami memutuskan untuk mencuci semua cucian dan menyeterika nya di layanan cuci kiloan dekat rumah.

Saya nggak perlu berurusan dengan setrikaan. Hidup pun kembali indah :)
bye bye setrikaan…. Setrika

Standar Sahabat

Thursday, November 16th, 2006

Beberapa waktu ini, pikiran tentang makna dari persahabatan senantiasa menggenangi pikiran saya. Tidak pernah ada sebuah aturan tertulis mengenai persahabatan. Tidak pernah ada standar baku tentangnya. Tidak ada buku panduan yang bisa dipercaya tentang apa yang mesti dilakukan, apa yang tabu dilakukan seorang terhadap sahabatnya. Nggak ada petunjuk.

Buat saya, yang namanya sahabat means everything. Sahabat bisa jadi segalanya buat saya. Nggak cuma ketawa bareng2, tapi juga nangis bareng (jadi inget kamu, soulmate !). Saya orang yang bisa mengorbankan segala sesuatu buat seorang sahabat. Kala sedih, kala senang, I wanna share everything.

Pertanyaannya, kapan seseorang disebut sahabat ? Saat setiap hari bersama-sama dan melakukan segala sesuatu bersama? Atau saat dia selalu ada saat kamu membutuhkannya ? Atau saat semua tawa dan air mata tercurah bersamanya ?

Ada kalanya saya sempat kecewa ketika tidak mendapatkan apa yang saya harapkan dari seorang sahabat. Saat kita melakukan sesuatu sementara dia menutup mata ketika kita membutuhkannya, atau ketika dia tiba-tiba cemberut tanpa kita tahu sebabnya. Keras saya berpikir, apa ini yang namanya seorang sahabat ? Ataukah saya yang terlalu banyak menuntut dan memasang standar tinggi untuk seorang sahabat ?

Nggak perlu sebuah proklamasi atau pengakuan, ‘kamu sahabat saya, saya sahabat kamu’.

Sekarang saya tau, seorang sahabat adalah saat kita bersamanya, atau bahkan saat kita terpisah jauh darinya, kita nggak perlu bertindak hati2 supaya kita nggak menyakiti hatinya. Nggak perlu kita repot2 menjaga perasaannya karena khawatir kita tersinggung dan nggak suka sama apa yang kita lakukan. Because a true friend will always know that we will never hurt her feeling