Mom & Son
Thursday, August 30th, 2007Sebenernya gue log in tadi bermaksud posting hal lain. Ternyata pas buka kompie, kok tiba2 topik ini melintas di kepala gue ;
Memasuki bulan ke-9, gue mulai merasakan gimana rasanya "being a mom" (meskipun belom, tapi gue merasakan aura itu semakin mendekati gue).
Bayangkan aja, selama 9 bulan ini, semua kita lakuin bareng-bareng (gue dan anak gue maksudnya). Dia nggak makan kalo gue nggak makan, tentunya ga minum kalo gue ga minum. Dia menggantungkan seluruh hidupnya sama gue. Nggak cuma dia aja, gue juga nyaris menggantungkan hidup gue sama dia. Anytime dia bergerak dengan posisi aneh-aneh, gue juga merasakan tekanan yang ga enak di perut gue. Waktu pertama kali gue tau dia ada, sepanjang hari gue deg-degan terus karena gue takut banget menyakiti dia. Maklum, waktu itu kan dia masih kecil banget, dan gue belum bisa merasakan gerakan-gerakannya. Sekarang, bedanya gue bisa men-detect is he doing allright apa engga. Kalo dia bergerak2 aktif, ya berarti he’s ok.
Kita juga selalu tidur bareng-bareng (ya iyalah !). Maksud gue gini, setiap malem, kita harus tidur dengan waktu yang sama. Kalo dia masih bergerak aktif kesana kemari, tentu gue nggak bisa tidur juga. Jadi setiap tidur malem, gue mencoba ‘memberi pengertian’ sama dia bahwa it’s time to get some sleep. Biasanya sih, dia ngerti kok.
Gue juga inget banget waktu tekanan darah gue drop banget di saat2 pertama kehadiran dia. Lengkap dengan sakit kepala all day, pusing, lemes, dll. Pokoknya gue jadi ga bisa aktif seperti sebelumnya aja, and that really kills me !.
Suami gue bilang, setelah hamilnya semakin gede dan gerakan2 si baby semakin nyata, dia baru mulai merasakan bahwa si baby itu ‘ada’. Berhubung gue ibunya, ya jelas gue udah ngerasain perasaan bahwa si baby itu ‘ada’ ya dari awal hamil, lah !
Dan sekarang gue jadi mengerti perasaan si artis-artis yang rebutan
anak sama (mantan) suami2 nya itu. Yang sering kita liat di TV itu lho. Gue sekarang ngerti betapa sakit perasaan seorang ibu yang terpaksa dipisahkan sama anaknya. Ya ampun, ini teh sebelum gue melihat sendiri wajah si baby. Gimana entar ya ?
Tadi malem gue bilang sama suami gue, bahwa yang paling punya hak atas seorang anak adalah ibunya sendiri. Dalam hal ini, gue bicara soal ibu-ibu yang bener ya. Kan ada juga tuh, ibu2 yang abandon anaknya begitu aja. Tapi dalam keadaan seorang ibu normal, dia berhak banget atas anaknya. Biar kata secara hukum anak ini bakal jadi anak Bapak nya, misalnya dengan dia meneruskan nama bapak nya, atau even nanti jadi pewaris harta bapak nya, tapi seorang ibu tetep paling berhak atas anaknya itu. Biar kata secara biologis anak itu ‘dibuat berdua’, tapi dia tumbuh jadi seorang manusia itu di perut ibunya. Untungnya suami gue setuju dan ga sok-sok merasa ‘paling berperan’ dalam kehamilan gue. Though actually he’s fully in charged
Curhat boleh ya ? Kemarin kapan itu, seorang keluarga suami pernah ngomong, wah, bayi nya bakal jadi seorang Silalahi tuh. Ya iyalah, secara suami gue juga Silalahi kan ? That I don’t deny at all. Tapi I feel something bad the way he said that. Ok, gue mengakui bahwa hormon gue selama hamil ini memang agak ga terkontrol. Gue bisa dengan mudah menangis dan merasa sediiiiiiih banget. Dan itu pula yang gue rasain waktu mendengar perkataan itu. Ekstrimnya, kok gue seperti merasa bahwa gue cuma ‘bertugas’ hamil dan melahirkan si baby, and that’s it. Your part is over.
Sebenernya sih gue tau banget kalo maksudnya bukan itu, tapi gimana yaaa…. hormon gituh…..









